Dobraknews.id | KAMPAR, RIAU
Kelangkaan bahan bakar jenis solar di SPBU Pertamina Petapahan, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, kian memprihatinkan. Dalam sepekan terakhir, antrean kendaraan mengular hingga sekitar 2,5 kilometer, memicu keluhan para sopir angkutan yang menggantungkan hidup dari operasional harian mereka.
Sejak Sore hingga malam, puluhan hingga ratusan kendaraan sudah berjejer rapi menunggu giliran. Namun, harapan untuk mendapatkan solar seringkali harus pupus atau hanya terpenuhi sebagian. Pasalnya, pembelian solar kini dibatasi maksimal Rp300 ribu per unit kendaraan Angkutan dan Rp 250 ribu per unit mobil pribadi. Kamis 30 April 2026
Salah seorang sopir angkutan, RD, mengaku kebijakan pembatasan tersebut sangat memberatkan.
“Dengan dibatasi seperti ini, kami tidak bisa jalan jauh. Pendapatan turun, sementara kebutuhan tetap,” keluhnya.
Menurutnya, kondisi ini sudah berlangsung selama kurang lebih satu minggu tanpa ada kejelasan kapan akan kembali normal. Para sopir terpaksa menghabiskan waktu berjam-jam di antrean, bahkan harus bermalam demi mendapatkan jatah solar.
Situasi ini bukan hanya menguras tenaga, tetapi juga berdampak langsung pada ekonomi keluarga para sopir. Banyak di antara mereka yang harus mengurangi jumlah perjalanan, bahkan ada yang memilih berhenti sementara karena tidak mendapatkan bahan bakar.
Para sopir berharap pemerintah dan pihak terkait segera turun tangan untuk mengatasi kelangkaan ini. Mereka meminta distribusi solar kembali normal dan kebijakan pembatasan dievaluasi agar tidak semakin menekan masyarakat kecil.
“Kami cuma minta kejelasan. Kalau terus begini, kami mau makan apa?” tambah RD dengan nada getir.
Kelangkaan solar ini menjadi peringatan serius bahwa distribusi energi di daerah perlu perhatian lebih. Di tengah kebutuhan yang tinggi, kepastian pasokan menjadi hal vital bagi roda ekonomi masyarakat, khususnya para pekerja sektor transportasi.
Redaksi
