Dobraknews.id | MEDAN
Kontroversi BanBan Running Club (BBRC) yang nekat berlari di lintasan Stadion Teladan masih panjang. Komunitas itu sudah minta maaf dan mengaku diundang panitia AFF U-19 2026. Tapi masalahnya kini bukan soal BanBan, melainkan tata kelola Pemko Medan yang dianggap amburadul.
Setelah videonya viral, akun media sosial BBRC yang sempat dikunci akhirnya dibuka. Mereka mengunggah “Pernyataan Sikap dan Permohonan Maaf BanBan”.
“Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya karena konten yang kami upload menimbulkan polemik yang begitu ramai di media sosial,” tulis BanBan.
Komunitas ini mengaku hanya menjalankan tugas dari panitia AFF U-19 untuk mempromosikan stadion hasil renovasi. Survei dilakukan 26 Mei 2026, dan pengambilan video dilakukan sehari setelahnya.
Tapi alasan itu langsung dihantam Presidium Lingkaran Transparansi Kebijakan Publik (LTKP), Syafaruddin Sikumbang.
“Ini bukan sekadar komunitas lari masuk stadion. Ini soal bobroknya pengawasan dan lemahnya kendali pemerintahan. Sangat memalukan ketika stadion yang sedang dipersiapkan untuk event internasional bisa dimasuki begitu saja,” tegas Syafaruddin, Sabtu (30/5/2026).
Ia juga menyindir lempar tanggung jawab pejabat Pemko. “Kalau Wali Kota mengaku tidak tahu, Dispora mengaku bukan tanggung jawab mereka, lalu siapa yang pegang kendali aset miliaran rupiah itu?”
Sementara, Koordinator Koalisi Masyarakat Anti Korupsi (KAMAK) Azmi Hadly menyoroti tanggung jawab Wali Kota Medan Rico Waas dan Kadis Perkim Citaru Jhon Lase.
“Anggaran Rp64 miliar dari APBD Pemko Medan belum terealisasi dengan baik hingga akhir Mei. Rumput Stadion Teladan sudah dipakai sekelompok orang untuk berolahraga tanpa izin resmi. Ini pembiaran!” kata Azmi.
Menurut KAMAK, insiden ini bukti pengamanan aset publik lemah. “Kalau pintu stadion bisa dibuka sembarangan untuk konten media sosial, bagaimana Pemko menjamin keamanan saat AFF U-19 nanti? Wali Kota dan Jhon Lase tidak boleh cuci tangan.”
“Jangan aturan dan hukum hanya tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Siapa yang berbuat harus bertanggung jawab, jangan seperti pemain bola, oper sana oper sini.”
Kini publik menunggu langkah tegas Pemko Medan. Apakah kasus ini akan diusut sampai ke akar, atau berhenti di permintaan maaf.
Tim / Tedaksi
