Dobraknews.id | CILEGON
Ketidakpastian geopolitik global dan pelemahan nilai tukar rupiah menjadi tantangan bagi perdagangan internasional, termasuk kinerja ekspor Provinsi Banten.
Menghadapi kondisi tersebut, Dewan Pengurus Daerah Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (DPD GPEI) Provinsi Banten mendorong percepatan gerakan “Merdeka Ekspor” berbasis komoditas tropis sekaligus memperkuat hilirisasi produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Wakil Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) dan Organisasi DPD GPEI Banten, Johan Singandaru, yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Indoguna Pasific Nusantara, mengatakan kondisi global yang penuh ketidakpastian harus disikapi dengan strategi yang mampu memperkuat daya saing produk lokal.
Menurut Johan, pelemahan rupiah memang memberikan tekanan terhadap sejumlah sektor manufaktur yang masih memiliki ketergantungan terhadap bahan baku impor. Namun, kondisi tersebut sekaligus membuka peluang bagi komoditas yang memiliki kandungan bahan baku domestik atau local content tinggi.
“Situasi global saat ini memang penuh ketidakpastian. Namun, kondisi ini justru dapat menjadi peluang bagi komoditas pertanian, perikanan, dan produk tropis lokal Banten yang tidak bergantung pada bahan baku impor,” ujar Johan.
Ia menilai Banten memiliki potensi besar dalam pengembangan komoditas tropis dan produk berbasis sumber daya lokal. Karena itu, strategi ekspor tidak boleh hanya berorientasi pada pengiriman bahan mentah, tetapi harus diarahkan pada peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi.
Menurutnya, komoditas seperti hasil pertanian, perikanan, manggis, kepiting, sarang burung walet dan berbagai produk tropis lainnya memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk jadi maupun setengah jadi yang lebih kompetitif di pasar internasional.
Momentum “Merdeka Ekspor”
Dorongan tersebut, kata Johan, sejalan dengan momentum gerakan “Merdeka Ekspor Komoditas Unggulan Banten” bersama Badan Karantina Indonesia (Barantin) di Bandara Soekarno-Hatta.
Dalam momentum tersebut, komoditas hayati asal Banten senilai sekitar Rp40,8 miliar dilepas ke pasar Asia.
Data karantina yang dikutip dalam momentum tersebut menunjukkan pertumbuhan pada sejumlah komoditas, antara lain komoditas tumbuhan sebesar 25,4 persen, sektor hewan 21 persen, serta ekspor hasil perikanan Banten yang meningkat hingga 279 persen.
Johan melihat perkembangan tersebut sebagai sinyal bahwa komoditas berbasis sumber daya lokal memiliki peluang besar menjadi penopang baru devisa daerah.
“Ini menunjukkan bahwa kita memiliki komoditas yang bisa bersaing di pasar global. Tantangannya adalah bagaimana komoditas tersebut tidak hanya keluar sebagai bahan mentah, tetapi memiliki nilai tambah yang lebih besar ketika diekspor,” katanya.
Harapan dari Rakernas GPEI 2026
Johan menegaskan, pembenahan sektor ekspor di daerah harus berjalan searah dengan kebijakan nasional. Terlebih, Rapat Kerja Nasional (Rakernas) GPEI 2026 mengangkat tema “Peran Aktif GPEI Meningkatkan Ekspor Nasional dan Devisa Negara.”
Menurut Johan, tema tersebut harus diterjemahkan menjadi program nyata di tingkat daerah, termasuk di Banten.
Ia berharap DPD GPEI Banten dapat menjadi motor penggerak dalam mempertemukan pelaku UMKM dengan pasar ekspor, sekaligus membantu mereka meningkatkan kapasitas produksi dan memenuhi berbagai standar perdagangan internasional.
“Melalui tema Rakernas tahun ini, harapan kami di jajaran pengurus DPD GPEI Banten adalah dapat berperan aktif menjembatani para pelaku usaha lokal agar naik kelas menjadi eksportir tangguh,” ujar Johan.
“Kami ingin memastikan kontribusi konkret Banten dalam menyumbang devisa negara tidak terhambat oleh masalah administratif, keterbatasan informasi pasar maupun tingginya biaya logistik. Sinergi antara pusat dan daerah harus diperkuat demi kejayaan ekspor nasional,” sambungnya.
Empat Strategi GPEI Banten
Untuk mengamankan momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus mewujudkan amanat Rakernas GPEI 2026, Johan menawarkan empat strategi utama yang perlu diperkuat pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan.
Pertama, percepatan hilirisasi produk UMKM pertanian dan perikanan.
Pelaku usaha didorong tidak lagi hanya mengekspor raw material. Komoditas tropis harus diolah menjadi produk jadi maupun setengah jadi di wilayah Banten sehingga nilai tambahnya meningkat sebelum masuk ke pasar internasional.
Hilirisasi juga dinilai dapat membuka lapangan pekerjaan baru, memperkuat rantai pasok lokal, sekaligus meningkatkan pendapatan pelaku usaha.
Kedua, implementasi sertifikasi dan traceability secara luas.
Johan menilai sistem ketertelusuran atau traceability semakin penting dalam perdagangan internasional. Produk harus mampu menunjukkan asal-usul, proses produksi, standar mutu, keamanan, higienitas hingga aspek keberlanjutan.
Karena itu, UMKM Banten perlu mendapatkan fasilitasi dan pendampingan agar mampu memenuhi standar yang dipersyaratkan negara tujuan ekspor.
Ketiga, mengaktifkan “Klinik Ekspor” secara berkelanjutan.
GPEI Banten mendorong adanya pendampingan intensif bagi eksportir pemula maupun pelaku UMKM yang ingin masuk pasar global.
Klinik Ekspor dapat dikembangkan melalui kolaborasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Banten, Badan Karantina Indonesia, Bea Cukai dan instansi terkait lainnya.
Materi pendampingan dapat mencakup regulasi kepabeanan, dokumen ekspor, riset pasar global, standar produk, hingga akses terhadap skema pembiayaan internasional.
Keempat, reformasi administrasi pencatatan devisa daerah.
Menurut Johan, tata kelola data perdagangan juga perlu mendapatkan perhatian. Komoditas yang diproduksi dari wilayah Banten harus dapat tercermin secara akurat dalam statistik perdagangan sehingga kontribusi ekonomi daerah tidak kehilangan jejak hanya karena proses pengapalan dilakukan melalui wilayah atau pelabuhan di provinsi lain.
“Data yang akurat sangat penting. Jangan sampai komoditasnya berasal dari Banten, pelaku usahanya dari Banten, tetapi kontribusi ekonominya tidak tergambarkan secara optimal dalam data perdagangan daerah,” jelas Johan.
Cetak Eksportir Muda Banten
Johan menilai penguatan ekspor tidak bisa hanya bergantung kepada perusahaan besar. Pemerintah dan dunia usaha perlu membangun ekosistem yang memungkinkan UMKM berkembang menjadi eksportir baru.
Menurutnya, generasi pengusaha muda Banten memiliki peluang besar untuk masuk ke pasar internasional apabila diberikan akses terhadap informasi, pembiayaan, teknologi, sertifikasi dan jaringan pasar.
“Jika hilirisasi UMKM berjalan, pengawasan mutu dari hulu diperkuat, dan sistem pencatatan data dibenahi, GPEI Banten optimistis kita dapat menjawab tantangan Rakernas 2026 dalam mendongkrak devisa, sekaligus mencetak eksportir-eksportir muda baru yang tangguh menguasai pasar dunia,” pungkas Johan.
Dengan strategi tersebut, GPEI Banten berharap gerakan “Merdeka Ekspor” tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi gerakan konkret untuk memperkuat daya saing produk lokal, meningkatkan nilai tambah komoditas, membuka pasar internasional bagi UMKM, dan pada akhirnya memperbesar kontribusi Banten terhadap devisa negara.
Robby / Editor: Red
